MEDIA ONLINE 3
PERJUANGAN TIADA HENTI
Tiba dengan wajah yang kalem tak sebanding dengan baju kotak-kotak yang pernah tenar di kalangan masyarakat. Hingga senyum manis yang dianugrahkan kepada sosok pria keturunan Indonesia ini membuat orang tak kuasa melempar pandangan ke arah lain. Namun berada dekat pemilik nama lengkap Silvanus Alvin kelahiran tahun 1990, waktu dua jam terasa sangkat singkat. Ingin rasanya memperlambat waktu sehingga dapat lebih banyak berbincang tentang cerita hdiupnya, apalagi saat ia bercerita tentang hidupnya di dunia jurnalis, dunia yang menjadi profesinya dahulu, seakan-akan kita berkecimpung pada pengalaman yang tak terlupakan. Sekarang ia pun beralih pandangan hidup menjadi dosen baru di UBM dengan julukan dosen manis.
Tiba dengan wajah yang kalem tak sebanding dengan baju kotak-kotak yang pernah tenar di kalangan masyarakat. Hingga senyum manis yang dianugrahkan kepada sosok pria keturunan Indonesia ini membuat orang tak kuasa melempar pandangan ke arah lain. Namun berada dekat pemilik nama lengkap Silvanus Alvin kelahiran tahun 1990, waktu dua jam terasa sangkat singkat. Ingin rasanya memperlambat waktu sehingga dapat lebih banyak berbincang tentang cerita hdiupnya, apalagi saat ia bercerita tentang hidupnya di dunia jurnalis, dunia yang menjadi profesinya dahulu, seakan-akan kita berkecimpung pada pengalaman yang tak terlupakan. Sekarang ia pun beralih pandangan hidup menjadi dosen baru di UBM dengan julukan dosen manis.
Pria asal Jakarta yang akrab disapa Alvin ini
memulai perjuangannya dengan berkuliah S1 di Universitas Multimedia Nusantara
jurusan jurnalis dengan beasiswa. Saat kuliah ia mengutarakan kritisi kinerja
kampus nya pada Majalah Kampus yang ia terbitkan bersama 8 rekan nya di kampus
tersebut. Bermula saat ia mengkritisi kantin yang hanya ada kios makanan dengan
tempat yang tak layak dibandingkan dengan kantin kampus lain. Setelah lulus, ia
pun memulai kariernya sebagai jurnalis online di Kompas.com beberapa waktu. Dan
Detik.com adalah pilihan ia selanjutnya untuk meniti karier nya. Disela-sela
kariernya di Detik.com, ia diajak dosennya untuk berkarier di Liputan6.com pada
tahun 2012. Maka dari itu, ia pun harus menunda kariernya di Detik.com yang
hanya bertahan 3 sampai menuju 4 bulan.
"Perbedaan 3 media yang pernah saya lakonin
adalah punya gaya penulisan yang berbeda, jika Kompas.com lebih menenkankan pada
angle atau pemilihan berita seperti contoh: Siapa BEM UI?. Detik.com menekankan
pada kecepatan waktu (update timing), saat di Detik.com ketertarikan saya pada segi
ekonomi dan kriminalitas muncul. Liputan6.com menekankan pada panjangnya
penjelasan berita, di Liputan6.com ada hubungan dengan IT asing (SEO), seperti
hastag", kata pemilik senyuman manis ini.
Ada satu pengalaman yang berkesan selama ia menjadi
seorang jurnalis yaitu ketika ia telah melakukan 2 kali liputan bersama
Presiden Jokowi di Luar Negeri. Saat liputan di Korea, ia melihat bahwa
Presiden menyukai salah satu boyband Korea, yaitu G-Dragon karena
penampilannya. Dan liputan kedua di Rusia, saat Jokowi berbicara dengan
Presiden Rusia menggunakan bahasa Inggris, tetapi Presiden Rusia ingin
menggunakan bahasa Rusia dalam perbincangan tersebut.
"Saat menjadi jurnalis online Liputan6.com, saya
juga pernah makan bersama dengan Wakil Presiden Indonesia JK. Inilah cikal bakal
saya meniti pendidikan S2 nya di University of Leicester Inggris dengan
beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) ajuan dari Pak JK. Tapi ada
keluh kesah saya adalah pada saat tidur di jalanan dengan beralaskan koran
unruk mendapat data skripsi nya tentang analisis framing", kata si
jurnalis ini. Kuliah S2 nya di Inggris adalah hal yang tak terduga selama di
hidupnya.
Komentar
Posting Komentar